Kata Pengantar
Puji syukur kami
panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyusun makalah ini yang membahas “Litosfer dan
Pedosfer”.
Materi
yang disajikan dalam makalah ini mengenai seperangkat pengetahuan Litosfer dan
Pedosfer. Baik itu mengenai arti dari Litosfer dan Pedosfer tersebut sampai
pada bagian tiap Litosfer dan Pedosfer tersebut.
Kami
mengucapkan terimakasih kepada jejaring sosial yang telah membantu kami untuk
memberikan referensi dalam penulisan makalah ini.
Semoga
makalah ini bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan setiap mahasiswa/mahasiswi.
Kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempatan makalah ini
di masa yang akan datang.
Medan,Oktober
2015
Penulis
BAB I
Pendahuluan
I.
Latar belakang masalah
Planet kita, Bumi, terdiri dari berbagai macam lapisan,
salah satu diantaranya adalah litosfer atau bisa disebut dengan lapisan kerak/
kulit bumi. Ketebalan lapisan kerak Bumi sangat tipis bila dibandingkan dengan
ukuran Bumi sebenarnya. Ketebalan lapisan ini 5–7 km di dasar samudra dan 30–80
km di bawah daratan benua.
Selain litosfer, pedosfer atau tanah merupakan lapisan
dari kulit bumi yang berada pada permukaan paling atas dari bumi.Dalam
kehidupan sehari-hari tanah merupakan bagian terpenting yang dapat menunjang
kelangsungan hidup manusia.
Dalam upaya menunjang pembangunan yang berwawasan
lingkungan pengetahuan tentang tanah dan faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas tanah mutlak diketahui. Untuk makalah tentang litosfer dan pedosfer
ini kami perbuat untuk membantu menambah wawasan mengenai litosfer dan pedosfer
bagi para pembaca.
II.
Rumusan masalah
1. Apa
pengertian dari litosfer dan pedosfer?
2. Apa
saja bagian dari litosfer tersebut?
3. Apa
yang menjadi penyusun batuan litosfer?
4. Apa-apa
saja faktor pembentuk tanah ?
5. Seperti
apa jenis tanah di indonesia ?
III.
Tujuan makalah
v Memahami
pengertian dari litosfer dan pedosfer
v Memahami
bagian dari litosfer
v Mengetahui
yang menjadi penyusun batuan litosfer
v Mengetahui
yang menjadi faktor pembentuk tanah
v Mengenal
jenis-jenis tanh di indonesia
BAB II
Pembahasan
Pembahasan
I.
Pengertian Litosfer
Lapisan
kulit bumi disebut dengan litosfer. Litosfer berasal dari kata lithos berarti batu
dan sphere (sphaira) berarti bulatan. Dengan demikian Litosfer dapat diartikan
lapisan batuan pembentuk kulit bumi. Dalam pengertian lain litosfer adalah
lapisan bumi yang paling atas dengan ketebalan lebih kurang 66 km tersusun atas
batuan. Batuan adalah massa yang terdiri atas satu atau lebih
macam mineral dengan komposisi kimia yang tetap sehingga dengan jelas dapat
dipisahkan antara satu dan yang lainnya
II.
Bagian lapisan litosfer yaitu :
1.
Lapisan sial
Lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya
dalam bentuk SiO2 dan AL2O3.Pada lapisan sial (silisium dan alumunium) ini antara lain terdapat
batuan sedimen, granit andesit jenis-jenis batuan metamor, dan batuan lain yang
terdapat di daratan benua. Lapisan sial dinamakan juga lapisan kerak bersifat
padat dan batu bertebaran rata-rata 35km.
Kerak bumi tersebut di bagi menjadi
dua bagian yaitu:
- Kerak benua : merupakan benda padat yang terdiri dari batuan granit di bagian atasnya dan batuan beku basalt di bagian bawahnya. Kerak ini yang merupakan benua.
- Kerak samudra : merupakan benda padat yang terdiri dari endapan dilaut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridolit. Kerak ini menempati dasar samudra
2.
Lapisan sima
(silisium magnesium)
Lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium
dalam bentuk senyawa Si O2 dan Mg O lapisan ini mempunyai berat jenis yang
lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium yaitu
mineral ferro magnesium dan batuan basalt dan mepunyai ketebalan rata rata 65 km .
I.
Macam-macam Batuan dalam
Litosfer
Batuan merupakan benda alam yang
menjadi penyusun utama di muka bumi. Pada umumnya batuan merupakan campuran
mineral yang bergabung secara fisik antara satu mineral dengan mineral lainnya.
Beberapa batuan hanya tersusun atas beberapa mineral saja dan mineral lainnya
dibentuk oleh gabungan mineral yang berasal dari bahan organik dan bahan-bahan
vulkanik. Berdasarkan proses terjadinya, batuan dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu sebagai berikut.
a.
Batuan Beku
Batuan beku merupakan batuan yang
terbentuk dari magma pijar yang membeku dan menjadi padat karena proses
pendinginan. Berdasarkan tempat terjadinya pendinginan, batuan beku dapat
dikelompokkan menjadi tiga, sebagai berikut.
v Batuan
tubir/batu beku dalam
Batuan tubir
hanya terdiri dari kristal, terbentuk jauh di dalam kulit bumi. Bongkahan
kristal yang besar besar terjadi karena proses pendinginan yang berjalan
lambat. Contoh batuan ini adalah granit.
v Batuan
leleran/batu beku luar
Pembekuan
batuan ini terjadi di luar kulit bumi sehingga penurunan temperatur terjadi
sangat cepat. Pada pembentukannya kadang-kadang magma sama sekali tidak
menghasilkan kristal, tetapi ada juga yang membentuk kristal-kristal kecil,
sehingga batuan leleran dapat berupa kristal kecil, kristal besar, dan bahan
amorf seperti liparit. Namun, ada juga yang berupa bahan amorf saja seperti
batu apung.
v Batuan
korok/batu beku gang
Batuan korok
merupakan batuan yang terbentuk di dalam korok-korok atau gang-gang. Proses
pendinginan berlangsung lebih cepat karena berada di dekat permukaan, sehingga
batuan ini dapat berupa kristal kecil dan kristal besar, tetapi juga ada yang
tidak mengkristal, seperti bahan amorf. Contohnya: granit fosfir.
b.
Batuan Sedimen
Pelapukan yang dialami oleh batuan beku menyebabkan
struktur batuan yang mudah lepas. Bagian yang lepas akan mudah terbawa air,
angin, atau es. Bagian yang terangkut ini akan terendap di suatu tempat. Bagian
batuan yang mengendap ini lama-kelamaan akan menumpuk dan mengeras membentuk
batuan sedimen. Pengerasan batuan ini disebut dengan
pembaruan.Jika ditinjau dari tempat terjadinya
pengendapan, batuan sedimen dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, sebagai
berikut.
Jika ditinjau dari tempat terjadinya pengendapan,
batuan sedimen dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, sebagai berikut.
- Batuan Sedimen Kontinental, merupakan batuan sedimen yang pengendapannya terjadi di laut. Misalnya: tanah los dan tanah gurun pasir.
- Batuan Sedimen Marine, merupakan batuan sedimen yang pengendapannya terjadi di laut. Misalnya: endapan radiolaria di laut dalam, lumpur biru di pantai, dan lumpur merah.
- Batuan Sedimen Lakustre, merupakan batuan sedimen yang pengendapannya terjadi di danau. Misalnya: Tuf danau dan tanah liat danau.
Berdasarkan proses pembentukannya batuan sedimen dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:
- Batuan Sedimen Klastik yaitu batuan asal yang mengalami penghancuran secara mekanis dari ukuran besar menjadi kecil, kemudian mengendap membentuk batuan endapan klastik. Contoh: umum batuan endapan klastik adalah batuan pasir dan batu lempung (Shale).
- Batuan Sedimen Kimiawi yaitu batuan yang terjadi karena proses kimiawi, seperti penguapan, pelarutan, dehidrasi, dan sebagainya. Contoh: batuan sedimen kimiawi yang terjadi secara langsung adalah batuan sedimen kapur yang dinamakan stalaktit dan stalagmit yang terdapat di gua-gua kapur.
- Batuan sedimen organik yaitu batuan yang terjadi karena selama proses pengendapannya mendapat bantuan dari organisme, yaitu sisa-sisa rumah atau bangkai binatang yang tertimbun di dasar laut seperti kerang, dan terumbu karang.
Sedangkan berdasarkan Perantara atau
Mediumnya, batuan sedimen di bagi menjadi:
- Batuan Sedimen Aeris (aeolis). Pengangkutan batuan ini adalah oleh angin. Misalnya: tanah los, tuff, dan pasir di gurun.
- Batuan Sedimen Glasial. Pengangkutan batuan ini adalah dilakukan melalui madia perantara es. Contohnya moraine.
- Batuan Sedimen Aquatis. Batuan sedimen yang terdiri atas batu-batu yang sudah direkat antara satu sama lain.
a.
Batuan Metamorf
Batuan malihan adalah batuan hasil
ubahan dari batuan asal (batuan beku dan batuan endapan) akibat proses
metamorfosis. Metamorfosis adalah suatu proses yang dialami batuan asal akibat
dari adanya tekanan atau temperatur yang meningkat atau tekanan dan temperatur
yang samasama meningkat.
Perubahan batuan dapat terjadi
karena bermacam-macam hal, antara lain sebagai berikut.
- Suhu tinggi, berasal dari magma karena berdekatan dengan dapur magma sehingga metamorfosis ini disebut Metamorfosis kontak. Misalnya: marmer dari batu kapur dan antrasit dari batu bara.
- Tekanan tinggi, berasal dari adanya endapan-endapan yang sangat tebal di atasnya. Contohnya: batu pasir dari pasir.
- Tekanan dan suhu tinggi, terjadi jika ada pelipatan dan geseran pada waktu terjadi pembentukan pegunungan. Metamorfosis ini disebut metamorfosis dinamo. Misalnya: batu asbak dan batu tulis.
- Penambahan bahan lain, pada saat terjadi perubahan bentuk terkadang terdapat penambahan bahan lain. Jenis batuan metamorf tersebut dinamakan batuan metamorf pneumatalitis.
I.
Pengertian pedosfer
Pedosfer atau tanah merupakan ilmu
yang mempelajari tentang tanah. pedosfer atau tanah merupakan lapisan dari
kulit bumi yang berada pada permukaan paling atas dari bumi.
II.
Faktor-faktor pembentuk tanah
1) Iklim
Iklim menjadi
faktor penting proses pembentukan tanah iklim dalam proses pembentukan tanah
berkaitan dengan tingkat kecepatan pelapukan batuan induk. Suhu udara dan curah
hujan merupakan bagian dari unsur iklim yang sangat berperan dalam proses
pembentukan tanah. Perbedaan suhu yang sangat mencolok antara siang dan malam
akan mempercepat proses pengembangan dan pengerutan batuan sehingga mempermudah
proses terpecahnya batuan.
2)
Organisme
Organisme berpengaruh terhadap proses pembentukan
tanah dalam hal-hal berikut.
v Membuat
proses pelapukan, berupa pelapukan organik. Pelapukan organik adalah pelapukan
yang di lakukan oleh makhluk hidup.
v Membantu
proses pembetukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan
dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun atau ranting itu
akan membusuk dengan bantuan jasad renik atau mikroorganisme yang ada di dalam
tanah.
3)
Bahan Induk
Bahan induk
terdiri dari batuan vulkanik, batuan baku, batuan sedimen (endapan), dan batu
metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan
mengalami pelapukan dan menjadi tanah. Tanah yang terdapat di permukaan bumi
sebagian mempelihara sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan
induknya. Bahan induknya masih terlihat misalnya tanah berstruktur pasir
berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi. Susunan kimia dan
mineral bahan induk akan memengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan vegetasi
di atasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsure Ca akan membentuk tanah
dengan kadar ion Ca yang banyak pula, sehingga dapat menghindari pencucian asam
silikat dan sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu.
Sebaliknya bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang
berwarna lebih merah.
4)
Tofografi
Relief yang
merupakan bentuk tofografi suatu wilayah dalam proses pembentukan tanah
berkaitan dengan arah aliran air. Arah aliran air mengikuti bentuk relief yaitu
dari daerah tinggi menuju daerah yang lebih rendah. Air terutama air hujan yang
jatuh di permukaan bumi adalah yang membantu pelapukan batuan. Pelapukan batuan
ini dapat mempercepat proses pembentukan tanah.
5)
Waktu
Semakin lama
waktu pembentukan tanah, maka akan semakin tebal pula tanah yang terbentuk.
Waktu pembentukan tanah berbeda-beda. Misalnya tanah yang berasal dari batuan
yang keras memerlukan waktu yang lama untuk pembentukan tanah dibanding dengan
tanah yang terbentuk dari batuan lunak. Lamanya waktu yang di perlukan untuk
pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti
abu vulkanik memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan
1.000-10.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa.
. Jenis-jenis tanah di indonesia
1. Tanah Vulkanis
a. Tanah
Andosol
- Proses terbentuknya : dari abu vulkanis yang telah mengalami proses pelapukan
- Ciri-ciri : warna kelabu hingga kuning, peka terhadap erosi, dan sangat subur
- Pemanfaatannya : sebagai lahan pertanian, perkebunan, hutan pinus atau cemara
- Persebaran : Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi
b. Tanah Regosol
- Proses terbentuknya : dari endapan abu vulkanis baru yang memiliki butir kasar
- Ciri-ciri : berbutir kasar, berwarna kelabu hingga kuning dan kadar bahan organik rendah
- Pemanfaatannya : untuk pertanian padi, palawija, tebu dan kelapa
- Persebaran : di lereng gunung berapi, pantai dan bukit pasir pantai yang meliputi pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara
c. Tanah
Aluvial (Tanah Endapan)
- Proses terbentuknya : tanah hasil erosi (lumpur dan pasir halus) di daerah-daerah dataran rendah
- Ciri-ciri : warna kelabu dan peka terhadap erosi
- Pemanfaatannya : sebagai lahan pertanian sawah dan palawija
- Persebaran : Sumatera, Jawa bagian utara, Halmahera, Kalimatan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Papua bagian selatan
a. Tanah
Humus
- Proses terbentuknya : dari hasil pembusukan bahan-bahan organik
- Ciri-ciri : warna kehitaman, mudah basah, mengandung bahan organik, sangat subur
- Pemanfaatannya : sebagai lahan pertanian
- Persebaran : Lampung, Jawa Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara
b. Tanah
Gambut
- Proses terbentuknya : dari hasil pembusukan tumbuhan / bahan organik di daerah yang selalu tergenang air (rawa-rawa)
- Ciri-ciri : bersifat sangat asam, unsur hara rendah sehingga tidak subur
- Pemanfaatannya : untuk pertanian pasang surut
- Persebaran : Pantai timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, Seram, Papua, Pantai Selatan
3. Tanah
Litosol (tanah berbatu-batu)
- Proses terbentuknya : dari pelapukan batuan beku dan sedimen yang masih baru (belum sempurna) sehingga butirannya besar / kasar
- Ciri-ciri : tekstur tanahnya beranekaragam dan pada umumnya berpasir, tak bertekstur, warna kandungan batu, kerikil dan kesuburan bervariasi
- Pemanfaatannya : masih alang-alang, bisa untuk hutan
- Persebaran : Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Sumatera
4. Tanah
Podzol
- Proses terbentuknya : di daerah yang memiliki suhu rendah dan curah hujan tinggi
- Ciri-ciri : warna pucat, kandungan pasir kuarsa tinggi, sangat masam, peka terhadap erosi, kurang subur
- Pemanfaatannya : untuk pertanian palawija
- Persebaran : Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Papua
5. Tanah Laterit
- Proses terbentuknya : Tanah yang tercuci air hujan, sehingga unsur hara telah hilang meresap dan mengalir ke dalam tanah
- Ciri-ciri : warna cokelat kemerah-merahan, tidak subur
- Pemanfaatannya : untuk lahan pertanian
- Persebaran : Kalimantan Barat, Lampung, Banten, Sulawesi Tenggara
6. Tanah
Mergel
- Proses terbentuknya : dari hasil campuran pelarutan kapur, pasir dan tanah liat karena peristiwa air hujan
- Ciri-ciri : tidak subur
- Pemanfaatannya : untuk hujan jati
- Persebaran : Yogyakarta, Priangan Selatan di Jawa Barat, pegunungan Kendeng di Jawa Tengah, Kediri, Madiun, Nusa Tenggara
7. Tanah
Terarosa (Kapur)
a. Tanah
Renzina
- Proses terbentuknya : dari pelapukan batuan kapur di daerah yang memiliki curah hujan tinggi
- Ciri-ciri : warna putih sampai hitam, miskin unsur hara
- Pemanfaatannya : untuk palawija, hutan jati
- Persebaran : Gunung kidul , Yogyakarta
b. Tanah
Mediteran
- Proses terbentuknya : hasil pelapukan batuan kapur keras dan sedimen
- Ciri-ciri : Warna putih kecoklatan, keras, tidak subur
- Pemanfaatannya : untuk pertanian tegalan, hutan jati
- Persebaran : Pegunungan Jawa Timur, Nusa Tenggara, Jawa Tengah, Sulawesi, Maluku, Sumatera
BAB III
Penutup
I.
Kesimpulan
Litosfer merupakan batuan pembentuk
kulit bumi ada pun lapisan dari litosfer tersebut ialah lapisan sial dan
siam.litosfer sebagai ilmu yang mempelajari mengenai bebatuan, litosfer
memiliki beberapa macam batuan yaitu batuan beku,batuan sedimen dan batuan
metamorf. Adapun pedosfer merupakan lapisan dari kulit bumi yang berada pada
permukaan paling atas dari bumi.pedosfer merupakan ilmu yang mempelajari
tentang tanah. Adapun faktor-faktor untuk pembentukan tanah yaitu
iklim,organisme,bahan induk,tofografi,waktu. Tanah tentu mempunyai jenis yang
berbeda-beda tiap daerah, ada pun jenis-jenis tanah di indonesia yaitu tanah
vulkanis,tanah vulkani ini di bagai menjadi beberapa bagian yaitu
andosol,regosol dan aluvial. Tanah organosol, memiliki beberapa bagian yaitu
tanah humus tanah gambut.Kemudian tanah litosol,tanah podzol,tanah
laterit,tanah mergel dan terakhir tanah terarosa yang memiliki beberapa bagian
yaitu rezina dan menditiran
II.
Saran
v Sebaiknya
kita harus lebih memahami hal-hal yang di sekitar kita seperti batu maupun
tanah agar kita perbedaan-perbedaan anatara batu satu dengan yang lain dan
tanah satu dengan yang lain
v Jika ingin
membuka lahan kita haru mendalami pembelajaran mengenai ilmu tanah yaitu
pedosfer agar kita emilih tempat yang sesuai di jadikan lahan.
v Bebatuan(litosfer)
di sekitar kita mungkin memang banyak, namun kita harus lebih memahami jenis
bebatuan agar kita tidak sulit membedakan dan melihat jenis-jenis tiap batu
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar